Minggu, 05 Agustus 2012

Peningkatan Keterampilan Menulis Proposal Kegiatan dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan dan Inkuiri pada Siswa Kelas XI IA 2 SMA Negeri 09 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005. (A16)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kurikulum 2004   atau      Kurikulum       Berbasis Kompetensi   sudah dilaksanakan di Indonesia mulai tahun ajaran 2004/ 2005. Kurikulum 2004 merupakan refleksi atau pengkajian       ulang               terhadap                           kurikulum 1994. Kurikulum 2004 atau  Kurikulum   Berbasis   Kompetensi   mengutamakan pencapaian standar kompetensi setiap siswa. Melalui penerapan kurikulum berbasis kompetens diharapkan        mutu         pendidikan       di     Indonesia          dapat meningkat, yang  pada akhirnya   menghasilkan    lulusan-lulusan yang berkualitas sebagai generasi penerus bangsa yang dapat dihandalkan.

Di Semarang saat ini, Kurikulum 2004 (Kurikulum       Berbasis Kompetensi) sudah dilaksanakan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, mulai  dari  Sekolah  Dasar (SD),  Sekolah  Menengah  Pertama  (SMP)  dan Sekolah   Menengah   Atas   (SMA)  atau   yang   sederajat.   SMA   Negeri   9 Semarang  adalah  salah  satu  sekolah  yang sudah  menggunakan  kurikulum 2004.  Tentu  saja  kurikulum ini  mencakup  semua  mata  pelajaran  termasuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Kurikulum  2004  (Kurikulum  Berbasis  Kompetensi)  mata  pelajaran Bahasa Indonesia menitikberatkan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi  penguasaan   empat   keterampilan   berbahasa,   yaitu   keterampilan menyimak,                     berbicara,           membaca, dan menulis.


Pembelajaran        Bahasa Indonesia  yang  berpedoman  pada  kurikulum  2004 (Kurikulum  Berbasis Kompetensi),  dalam  pelaksanaannya  guru  bertindak  sebagai fasilitator  dan motivator  bagi  siswa,  jadi  guru  tidak  menyampaikan  materi-materi secara langsung  melalui  ceramah  kepada  siswa,   melainkan  siswa  yang  dituntut untuk  aktif  dan  kreatif  memperoleh  pengetahuan  dengan  bimbingan  guru. Siswa tidak  hanya  menerima  dan  menghafal  materi  tentang  tata  bahasa, pemajasan, dan sebagainya, tetapi lebih ditekankan pada penguasaan empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.  Begitu juga dengan pembelajaran sastra, siswa harus mampu menyimak,             berbicara,    membaca,  dan    menulis      sastra,               bukan sekadar menghafalkan sejarah sastra atau teori sastra. Siswa harus aktif dan kreatif menerapkan  teori-teori  kebahasaan  maupun kesusastraan  dalam  kehidupan nyata.

Belajar bahasa           pada      hakikatnya               adalah   mempelajari   bagaimana menggunakan  bahasa  sebagai  alat  komunikasi.  Seseorang  bisa  dikatakan berhasil jika dia mampu memanfaatkan bahasa untuk berkomuniukasi, bukan sekadar menghafalkan  teori-teori kebahasaan. Mempelajari bahasa meliputi empat keterampilan  berbahasa,   yaitu  keterampilan  menyimak,  berbicara, membaca, dan menulis. Bersama dengan empat  keterampilan tadi kita juga belajar mengenai kosa kata dan tata bahasa.

Keterampilan  menulis  sebagai  salah  satu  keterampilan  berbahasa merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis juga merupakan kegiatan  komunikasi  tidak   langsung.  Ada  dua  istilah  yang  berhubungan dengan kegiatan menulis, yaitu mengarang dan menulis. Kegiatan mengarang akan   menghasilkan  sebuah  karangan, sedangkan  kegiatan  menulis  akan menghasilkan tulisan. Perbedaan dari keduanya yaitu, tulisan dilandasi fakta, pengalaman, pengamatan, penelitian, pemikiran, atau analisis suatu masalah. Contoh tulisan antara lain: makalah, proposal, artikel, buku umum dan buku pelajaran.  Sebaliknya  karangan  banyak   dipengaruhi  oleh imajinasi dan perasaan  pengarang,  misalnya  cerpen,  novel,  puisi  (Wiyanto  2004:3).  Jadi dapat disimpulkan  bahwa  kegiatan  menulis  memiliki  cakupan  yang  luas, tidak  hanya yang  disebutkan  di  atas,  membuat  surat,  pengumuman  atau laporan juga termasuk kegiatan menulis. Pada kenyataannya keterampilan- keterampilan   menulis surat,  proposal,  pengumuman,  atau  laporan  sering dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai  contoh  kemampuan  menulis  proposal,  proposal  merupakan suatu  bentuk rencana atau rancangan yang tertuang dalam bahasa tulis. Jika kita  akan menyelenggarakan  suatu  kegiatan,  biasanya  terlebih  dahulu  kita harus menyusun sebuah  proposal kegiatan untuk keperluan permohonan izin atau  permohonan bantuan  dana.  Begitu  juga  ketika  kita  akan  melakukan penelitian ilmiah.

Dalam  kurikulum  2004  mata  pelajaran  Bahasa  Indonesia  kelas  XI, terdapat     kompetensi    dasar menulis proposal.  Mengingat      pentingnya kemampuan   menulis proposal,  maka  kompetensi  dasar  menulis  proposal harus benar-benar  dikuasai        oleh  siswa. Guru    harus pandai memilih pendekatan dan metode yang tepat sehingga indikator yang diharapkan dapat tercapai, yaitu siswa mampu menyebutkan unsur-unsur proposal dan mampu menulis proposal dengan baik. Pendekatan dan metode yang digunakan guru juga harus mampu merangsang siswa untuk aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran.

Pendekatan kontekstual     merupakan     sebuah alternatif dalam pembelajaran  Bahasa Indonesia  yang  berpedoman  pada  kurikulum  2004. Pendekatan   kontekstual merupakan  konsep  belajar  yang  membantu  guru untuk mengaitkan materi yang disampaikan dengan situasi dunia nyata siswa dan  mendorong  keaktifan  siswa  untuk menghubungkan  pengetahuan  yang dimiliki  dengan  penerapannya  dalam  kehidupan   mereka  sebagai  anggota keluarga maupun masyarakat (Depdiknas 2003:4).

Dalam pendekatan kontekstual ada beberapa komponen, di antaranya adalah komponen inkuiri (menemukan) dan modelling (pemodelan). Inkuiri berarti menemukan,  jadi siswa lebih aktif untuk menemukan pengetahuan- pengetahuan baru,  bukan    semata-mata          menghafal  materi  dari       guru. Pemodelan (modelling) adalah pemberian contoh dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat  mempelajari pengetahuan baru dari model atau contoh yang dihadirkan guru.

Berdasarkan pengamatan penulis, hanya sebagian kecil siswa dalam satu kelas  yang aktif saat mengikuti pembelajaran. Selain itu, masih ditemui guru yang memilih metode ceramah dalam menyampaikan materi, sehingga siswa  terbiasa  hanya menerima  pengetahuan  dari  guru,  begitu  juga  yang terjadi  di  SMA  Negeri  9 Semarang.   Pendekatan  kontekstual  komponen pemodelan  dan  inkuiri  dirasa  tepat untuk  pembelajaran  menulis  proposal. Siswa tidak akan menghafalkan pengertian proposal, jenis-jenis proposal atau bagian-bagian  proposal  yang  didapatkan  dari ceramah  guru.  Akan  tetapi siswa akan menemukan sendiri  pengetahuan tersebut dari contoh, kemudian mampu menulis proposal yang baik untuk berbagai keperluan.

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis, di SMA Negeri 9 Semarang kelas XI IA 2, kompetensi dasar menulis proposal kegiatan telah diajarkan,   tetapi  hasil pembelajaran  belum  mencapai  target  nilai  yang ditetapkan,  yaitu  70. Pembelajaran  menulis  proposal  dilaksanakan  melalui ceramah dan pemberian contoh. Waktu untuk pembelajaran menulis proposal relatif  singkat  sehingga  belum dapat  diketahui  apakah  seluruh  siswa  telah menguasai kompetensi dasar tersebut. Proposal yang  ditulis oleh siswa juga masih terdapat banyak kesalahan.

Berdasarkan  uraian   di    atas,   penulis   tertarik    untuk     melakukan penelitian dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dan inkuiri untuk pembelajaran kompetensi dasar menulis proposal kegiatan. Dalam  penelitian   ini   penulis   memilih   judul   Peningkatan   Keterampilan Menulis  Proposal  Kegiatan dengan   Pendekatan  Kontekstual  Komponen Pemodelan dan Inkuiri pada Siswa Kelas XI IA 2 SMA Negeri 9 Semarang.

Cara Downloadnya silahkan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar